Sabtu, 06 Agustus 2011

Tulang Rusuk yang Hilang

Cerita ini saya posting untuk seorang teman yang sedang duduk termenung disana menyesali diri. Kehidupan cinta yang penuh dengan pertengkaran membuat teman saya ini merasa salah memilih calon pendamping hidupnya yaitu sang pacar yang sudah 4 tahun menemani hari-harinya.
cerita ini untuk kita semua yang sering kali membuat sedihati orang yang kita sayang
…..semoga kisah ini membuat perubahan akan perasaan pada sang kekasih….terima kasih untuk penulis cerita ini
Sebuah senja yang sempurna, sepotong donat, dan lagu cinta yang lembut. Adakah yang lebih indah dari itu, bagi sepasang manusia yang memadu kasih? Raka dan Dara duduk di punggung senja itu, berpotong percakapan lewat, beratus tawa timpas, lalu Dara pun memulai meminta kepastian. ya, tentang cinta.
Dara : Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini?
Raka : Kamu dong?
Dara : Menurut kamu, aku ini siapa?
Raka : (Berpikir sejenak, lalu menatap Dara dengan pasti) Kamu tulang rusukku! Ada tertulis, Tuhan melihat bahwa Adam kesepian. Saat Adam tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan Hawa. Semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya, tidak lagi merasakan sakit di hati.”
Setelah menikah, Dara dan Raka mengalami masa yang indah dan manis untuk sesaat. Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan kepenatan hidup yang kain mendera. Hidup mereka menjadi membosankan. Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain.
Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin panas.
Pada suatu hari, pada akhir sebuah pertengkaran, Dara lari keluar rumah. Saat tiba di seberang jalan, dia berteriak, “Kamu nggak cinta lagi sama aku!”
Raka sangat membenci ketidakdewasaan Dara dan secara spontan balik berteriak, “Aku menyesal kita menikah! Kamu ternyata bukan tulang rusukku!”
Tiba-tiba Dara menjadi terdiam , berdiri terpaku untuk beberapa saat. Matanya basah. Ia menatap Raka, seakan tak percaya pada apa yang telah dia dengar.
Raka menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan. Tetapi seperti air yang telah tertumpah, ucapan itu tidak mungkin untuk diambil kembali. Dengan berlinang air mata, Dara kembali ke rumah dan mengambil barang-barangnya, bertekad untuk berpisah. “Kalau aku bukan tulang rusukmu, biarkan aku pergi. Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan sejati masing-masing. ”
Lima tahun berlalu…..
Raka tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari tahu akan kehidupan Dara. Dara pernah ke luar negeri, menikah dengan orang asing, bercerai, dan kini kembali ke kota semula. Dan Raka yang tahu semua informasi tentang Dara, merasa kecewa, karena dia tak pernah diberi kesempatan untuk kembali, Dara tak menunggunya.
Dan di tengah malam yang sunyi, saat Raka meminum kopinya, ia merasakan ada yang sakit di dadanya. Tapi dia tidak sanggup mengakui bahwa dia merindukan Dara.
Suatu hari, mereka akhirnya kembali bertemu. Di airport, di tempat ketika banyak terjadi pertemuan dan perpisahan, mereka dipisahkan hanya oleh sebuah dinding pembatas, mata mereka tak saling mau lepas.
Raka : Apa kabar?
Dara : Baik… ngg.., apakah kamu sudah menemukan rusukmu yang hilang?
Raka : Belum.
Dara : Aku terbang ke New York dengan penerbangan berikut.
Raka : Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telpon aku kalau kamu sempat. Kamu tahu nomor telepon kita, belum ada yang berubah. Tidak akan ada yang berubah.
Dara tersenyum manis, lalu berlalu.
“Good bye….”
Seminggu kemudian, Raka mendengar bahwa Dara mengalami kecelakaan, mati. Malam itu, sekali lagi, Raka mereguk kopinya dan kembali merasakan sakit di dadanya. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah karena Dara, tulang rusuknya sendiri, yang telah dengan bodohnya dia patahkan.
“Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal”
»»  read more

Kamis, 04 Agustus 2011

Menjadi Manusia...

Suatu ketika, ada seorang pria yang menganggap Natal sebagai sebuahtakhayul belaka. Dia bukanlah orang yang kikir. Dia adalah pria yang baik hati dan tulus, setia kepada keluarganya danbersih kelakuannya terhadap orang lain. Tetapi ia tidak percaya pada kelahiran Kristus yang diceritakan setiap gereja di hari Natal. Dia sunguh-sungguh tidak percaya."Saya benar-benar minta maaf jika saya membuat kamu sedih,"kata pria itu kepada istrinya yang rajin pergi ke gereja. "Tapi saya tidak dapat mengerti mengapa Tuhan mau menjadi manusia. Itu adalah hal yang tidak masuk akal bagi saya "


Pada malam Natal, istri dan anak-anaknya pergi menghadiri kebaktiantengah malam di gereja. Pria itu menolak untuk menemani mereka."Saya tidak mau menjadimunafik," jawabnya."Saya lebih baik tinggal di rumah. Saya akan menunggumu sampai pulang. "Tak lama setelah keluarganya berangkat, salju mulai turun. Ia melihat keluar jendela dan melihat butiran-butiran salju itu berjatuhan. Lalu ia kembali ke kursinya di samping perapian dan mulai membaca surat kabar. Beberapa menit kemudian, ia dikejutkan oleh suara ketukan. Bunyi itu terulang tiga kali.


Ia berpikir seseorang pasti sedang melemparkan bola salju ke arah jendela rumahnya. Ketika ia pergi ke pintu masuk untuk mengeceknya, ia menemukan sekumpulan burung terbaring tak berdaya di salju yang dingin. Mereka telah terjebak dalam badai salju dan mereka menabrak kaca jendela ketika hendak mencari tempat berteduh.


Saya tidak dapat membiarkan makhluk kecil itu kedinginan di sini, pikir pria itu. Tapi bagaimana saya bisa menolong mereka? Kemudian ia teringat akan kandang tempat kuda poni anak-anaknya. Kandang itu pasti dapat memberikan tempat berlindung yang hangat. Dengan segera pria itu mengambil jaketnya dan pergi ke kandang kuda tersebut.Ia membuka pintunya lebar-lebar dan menyalakan lampunya.


Tapi burung-burung itu tidak masuk ke dalam. Makanan pasti dapat menuntun mereka masuk, pikirnya.Jadi ia berlari kembali ke rumahnya untuk mengambil remah-remah rotidan menebarkannya ke salju untuk membuatjejak ke arah kandang. Tapi ia sungguh terkejut. Burung-burung itu tidak menghiraukan remah roti tadi dan terus melompat-lompat kedinginan di atas salju. Pria itu mencoba menggiring mereka seperti anjing menggiring domba,tapi justru burung-burung itu berpencaran kesana-kemari, malah menjauhi kandang yang hangat itu. "Mereka menganggap saya sebagai makhluk yang aneh dan menakutkan," kata pria itu pada dirinya sendiri, "dan saya tidak dapat memikirkan cara lain untuk memberitahu bahwamereka dapat mempercayai saya.


Kalau saja saya dapat menjadi seekor burung selama beberapa menit, mungkin saya dapat membawa mereka pada tempat yang aman." Pada saat itu juga, lonceng gereja berbunyi. Pria itu berdiri tertegun selama beberapa waktu, mendengarkan bunyi lonceng itu menyambut Natal yang indah. Kemudian dia terjatuh pada lututnya dan berkata,"Sekarang saya mengerti," bisiknya dengan terisak. "Sekarang saya mengerti mengapa KAU mau menjadi manusia."
»»  read more

Tidak Sadarkah Engkau apa yang Telah Dilakukan TUHAN untukmu?

Nenek Granny sedang menyambut cucu-cucunya pulang dari sekolah.Mereka adalah anak-anak muda yang sangat cerdas dan sering menggoda nenek mereka. Kali ini, Tom mulai menggoda dia dengan berkata, "Nek,apakah nenek masih pergi ke gereja pada hari minggu?"Tentu!" "Apa yang nenek peroleh dari gereja? Apakah nenek bisa memberitahu kami tentang Injil minggu lalu..?"


"Tidak, nenek sudah lupa. Nenek hanya ingat bahwa nenek menyukainya."


"Lalu apa khotbah dari pendeta?"


"Nenek tidak ingat. Nenek sudah semakin tua dan ingatan nenek melemah.


Nenek hanya ingat bahwa ia telah memberikan khotbah yang memberi kekuatan,Nenek menyukai khotbah itu."


Tom menggoda, "Apa untungnya pergi ke gereja jika nenek tidak mendapatkansesuatu dariNya?" Nenek itu terdiam oleh kata-kata itu dan ia duduk di sana termenung. Dan anak-anak lain tampak menjadi malu. Kemudian nenek itu berdiri dan keluar dari ruangan tempat mereka semua duduk, dan berkata, "Anak-anak, ayo ikut nenek ke dapur." Ketika mereka tiba di dapur, dia mengambil tas rajutan dan memberikannya kepada Tom sambil berkata, "Bawalah ini ke mata air, dan isilah dengan air, lalu bawa kemari!"


"Nenek, apa nenek tidak sedang melucu? Air didalam tas rajutan....! "Nek, apa ini bukan lelucon?" tanya Tom.


"Tidak.., lakukanlah seperti yang kuperintahkan. Saya ingin memperlihatkan kepadamu sesuatu."


Maka Tom berlari keluar dan dalam beberapa menit ia kembali dengan tasyang bertetes-teskan ..


"Lihat,nek," katanya. "Tidak ada air di dalamnya."


"Benar," katanya. "Tapi lihatlah betapa bersihnya tas itu sekarang. Anak-anak, tidak pernah kamu ke gereja tanpa mendapatkan sesuatu yang baik, meskipun kamu tidak mengetahuinya."
»»  read more

Adakah yang Sia-Sia dalam TUHAN?!

Seorang kristen menulis surat kepada Editor sebuah surat kabar dan mengeluhkan kepada para pembaca bahwa dia merasa sia-sia pergi ke gereja setiap minggu. Tulisnya, "saya sudah pergi ke gereja selama 30 tahun dan selama itusayatelah mendengar 3000 khotbah. Tapi selama hidup, saya tidak bisa mengingat satu khotbah pun. Jadi saya rasa saya telah memboroskan begitu banyak waktu - demikianpun para pendeta itu telah memboroskan waktu mereka dengan khotbah-khotbah itu."


Surat itu menimbulkan perdebatan yang hebat dalam kolom pembaca. Perdebatan itu berlangsung berminggu-minggu sampai akhirnya adaseseorang yang menulis demikian:"Saya sudah menikah selama 30 tahun. Selama ini istri saya telah memasak 32.000 jenis masakan.Selama hidup saya tidak bisa mengingat satupun jenis masakan itu yang dilakukan istri saya. Tapi saya tahu bahwa masakan-masakan itu telah memberi saya kekuatanyang saya perlukan untuk bekerja. Seandainya istri saya tidak memberikan makanan itu kepada saya,makasaya sudah lama meninggal."Sejak itu tak ada lagi komentar tentang khotbah.
»»  read more

Ngambek?? NO!!!

Sebuah salah pengertian yg mengakibatkan kehancuran sebuah rumah
 tangga.Tatkala nilai akhir sebuah kehidupan sudah terbuka,tetapi segalanya
 sudah terlambat. Membawa nenek utk tinggal bersama menghabiskan masa
 tuanya bersama kami,malah telah menghianati ikrar cinta yg telah kami buat
 selama ini,setelah 2 tahun menikah,saya dan suami setuju menjemput nenek
 di kampung utk tinggal bersama .

Sejak kecil suami saya telah kehilangan ayahnya,dia adalah
satu-satunya harapan nenek,nenek pula yg membesarkannya dan menyekolahkan
 dia hingga tamat kuliah.

 Saya terus mengangguk tanda setuju,kami segera menyiapkan sebuah
 kamar yg menghadap taman untuk nenek,agar dia dapat berjemur,menanam bunga
 dan sebagainya.Suami berdiri didepan kamar yg sangat kaya dgn sinar
 matahari,tidak sepatah katapun yg terucap tiba-tiba saja dia mengangkat
 saya dan memutar-mutar saya seperti adegan dalam film India dan berkata
"Mari,kita jemput nenek di kampung".

 Suami berbadan tinggi besar,aku suka sekali menyandarkan kepalaku ke
 dadanya yg bidang,ada suatu perasaan nyaman dan aman disana.Aku seperti
 sebuah boneka kecil yg kapan saja bisa diangkat dan dimasukan kedalam
 kantongnya.Kalau terjadi selisih paham diantara kami,dia suka tiba-tiba
 mengangkatku tinggi-tinggi diatas kepalanya dan diputar-putar sampai aku
 berteriak ketakutan baru diturunkan.Aku sungguh menikmati saat-saat
 seperti itu.
 Kebiasaan nenek di kampung tidak berubah.Aku suka sekali menghias
 rumah dengan bunga segar,sampai akhirnya nenek tidak tahan lagi dan
 berkata kepada suami:"Istri kamu hidup foya-foya ,buat apa beli bunga?Kan
 bunga tidak bisa dimakan?" Aku menjelaskannya kepada nenek:"Ibu,rumah
 dengan bunga segar membuat rumah terasa lebih nyaman dan suasana hati
 lebih gembira."Nenek berlalu sambil mendumel,suamiku berkata sambil
 tertawa:"Ibu,ini kebiasaan orang kota,lambat laun ibu akan terbiasa juga."



 Nenek tidak protes lagi,tetapi setiap kali melihatku pulang sambil
 membawa bunga,dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya berapa harga
 bunga itu,setiap mendengar jawabanku dia selalu mencibir sambil
 menggeleng-gelengkan kepala.Setiap membawa pulang barang belanjaan,dia
 selalu tanya itu berapa harganya ,ini berapa.Setiap aku jawab,dia selalu
 berdecak dengan suara keras.Suamiku memencet hidungku sambil
 berkata:"Putriku,kan kamu bisa berbohong.Jangan katakan harga yang
 sebenarnya." Lambat laun,keharmonisan dalam rumah tanggaku mulai terusik.


Nenek sangat tidak bisa menerima melihat suamiku bangun pagi
 menyiapkan sarapan pagi untuk dia sendiri,di mata nenek seorang anak
 laki-laki masuk ke dapur adalah hal yang sangat memalukan.Di meja  makan,wajah nenek selalu cemberut dan aku sengaja seperti tidak
 mengetahuinya.Nenek selalu membuat bunyi-bunyian dengan alat makan seperti
 sumpit dan sendok,itulah cara dia protes.



 Aku adalah instrukstur tari,seharian terus menari membuat badanku
 sangat letih,aku tidak ingin membuang waktu istirahatku dengan bangun pagi  apalagi disaat musim dingin.Nenek kadang juga suka membantuku di
dapur,tetapi makin dibantu aku menjadi semakin repot,misalnya;dia suka
 menyimpan semua kantong-kantong bekas belanjaan,dikumpulkan bisa untuk
 dijual katanya.Jadilah rumahku seperti tempat pemulungan kantong
 plastik,dimana-mana terlihat kantong plastik besar tempat semua kumpulan
 kantong plastik.


Kebiasaan nenek mencuci piring bekas makan tidak menggunakan cairan
 pencuci,agar supaya dia tidak tersinggung,aku selalu mencucinya sekali  lagi pada saat dia sudah tidur.Suatu hari,nenek mendapati aku sedang
 mencuci piring malam harinya,dia segera masukke kamar sambil membanting
 pintu dan menangis.Suamiku jadi serba salah,malam itu kami tidur seperti
 orang bisu,aku coba bermanja-manja dengan dia,tetapi dia tidak perduli.Aku
 menjadi kecewa dan marah."Apa salahku?" Dia melotot sambil berkata:"Kenapa
 tidak kamu biarkan saja? Apakah memakan dengan pring itu bisa membuatmu
 mati?"

 Aku dan nenek tidak bertegur sapa untuk waktu yg culup lama,suasana
 mejadi kaku.Suamiku menjadi sangat kikuk,tidak tahu harus berpihak pada
 siapa?Nenek tidak lagi membiarkan suamiku masuk ke dapur,setiap pagi dia
 selalu bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuknya,suatu kebahagiaan
 terpancar di wajahnya jika melihat suamiku makan dengan lahap,dengan sinar
 mata yang seakan mencemohku sewaktu melihat padaku,seakan berkata dimana
 tanggung jawabmu sebagai seorang istri?

 Demi menjaga suasana pagi hari tidak terganggu,aku selalu membeli
 makanan diluar pada saat berangkat kerja.Saat tidur,suami berkata:"Lu
 di,apakah kamu merasa masakan ibu tidak enak dan tidak bersih sehingga
 kamu tidak pernah makan di rumah?" sambil memunggungiku dia berkata tanpa
 menghiraukan air mata yg mengalir di kedua belah pipiku.Dan dia akhirnya
 berkata:"Anggaplah ini sebuah permintaanku,makanlah bersama kami setiap
 pagi."Aku mengiyakannya dan kembali ke meja makan yg serba canggung itu.

Pagi itu nenek memasak bubur,kami sedang makan dan tiba-tiba ada
 suatu perasaan yg sangat mual menimpaku,seakan-akan isi perut mau keluar
 semua.Aku menahannya sambil berlari ke kamar mandi,sampai disana aku
 segera mengeluarkan semua isi perut.Setelah agak reda,aku melihat suamiku
 berdiri didepan pintu kamar mandi dan memandangku dengan sinar mata yg
 tajam,diluar sana terdengar suara tangisan nenek dan berkata-kata dengan
 bahasa daerahnya.Aku terdiam dan terbengong tanpa bisa
 berkata-kata.Sungguh bukan sengaja aku berbuat demikian!.

 Pertama kali dalam perkawinanku,aku bertengkar hebat dengan
 suamiku,nenek melihat kami dengan mata merah dan berjalan menjauh..suamiku
 segera mengejarnya keluar rumah.


 Menyambut anggota baru tetapi dibayar dengan nyawa nenek.

 Selama 3 hari suamiku tidak pulang ke rumah dan tidak juga
 meneleponku.Aku sangat kecewa,semenjak kedatangan nenek di rumah ini,aku
 sudah banyak mengalah,mau bagaimana lagi?Entah kenapa aku selalu merasa
 mual dan kehilangan nafsu makan ditambah lagi dengan keadaan rumahku yang
 kacau,sungguh sangat menyebalkan.Akhirnya teman sekerjaku berkata:"Lu
 Di,sebaiknya kamu periksa ke dokter."Hasil pemeriksaan menyatakan aku
sedang hamil.Aku baru sadar mengapa aku mual-mual pagi itu.Sebuah berita
 gembira yg terselip juga kesedihan.Mengapa suami dan nenek sebagai orang
 yg berpengalaman tidak berpikir sampai sejauh itu?


Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku,3 hari tidak bertemu
 dia berubah drastis,muka kusut kurang tidur,aku ingin segera berlalu
 tetapi rasa iba membuatku tertegun dan memanggilnya.Dia melihat ke arahku
 tetapi seakan akan tidak mengenaliku lagi,pandangan matanya penuh dengan
 kebencian dan itu melukaiku.Aku berkata pada diriku sendiri,jangan lagi
 melihatnya dan segera memanggil taksi.Padahal aku ingin memberitahunya
 bahwa kami akan segera memiliki seorang anak.Dan berharap aku akan
 diangkatnya tinggi-tinggi dan diputar-putar sampai aku minta ampun
 tetapi..... mimpiku tidak menjadi kenyataan.Didalam taksi air mataku
 mengalir dengan deras.Mengapa kesalah pahaman ini berakibat sangat buruk?


 Sampai di rumah aku berbaring di ranjang memikirkan peristiwa
 tadi,memikirkan sinar matanya yg penuh dengan kebencian,aku menangis
 dengan sedihnya.Tengah malam,aku mendengar suara orang membuka laci,aku
 menyalakan lampu dan melihat dia dgn wajah berlinang air mata sedang
 mengambil uang dan buku tabungannya.Aku nenatapnya dengan dingin tanpa
 berkata-kata.Dia seperti tidak melihatku saja dan segera
 berlalu.Sepertinya dia sudah memutuskan utk meninggalkan aku.Sungguh
 lelaki yg sangat picik,dalam saat begini dia masih bisa membedakan antara
 cinta dengan uang.Aku tersenyum sambil menitikan air mata.



 Aku tidak masuk kerja keesokan harinya,aku ingin secepatnya
 membereskan masalah ini,aku akan membicarakan semua masalah ini dan pergi
 mencarinya di kantornya.Di kantornya aku bertemu dengan seketarisnya yg
 melihatku dengan wajah bingung."Ibunya pak direktur baru saja mengalami
 kecelakaan lalu lintas dan sedang berada di rumah sakit.Mulutku terbuka
 lebar.Aku segera menuju rumah sakit dan saat menemukannya,nenek sudah
 meninggal.Suamiku tidak pernah menatapku,wajahnya kaku.Aku memandang jasad
 nenek yg terbujur kaku.Sambil menangis aku menjerit dalam
 hati:"Tuhan,mengapa ini bisa terjadi?"


 Sampai selesai upacara pemakaman,suamiku tidak pernah bertegur sapa denganku,jika memandangku selalu dengan pandangan penuh dengan
 kebencian.Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain,pagi itu
 nenek berjalan ke arah terminal,rupanya dia mau kembali ke kampung.Suamiku
 mengejar sambil berlari,nenek juga berlari makin cepat sampai tidak
melihat sebuah bus yg datang ke arahnya dengan kencang.Aku baru mengerti
 mengapa pandangan suamiku penuh dengan kebencian.Jika aku tidak muntah
 pagi itu,jika kami tidak bertengkar, jika............dimatanya,akulah
 penyebab kematian nenek.


 Suamiku pindah ke kamar nenek,setiap malam pulang kerja dengan badan
 penuh dengan bau asap rokok dan alkohol.Aku merasa bersalah tetapi juga
 merasa harga diriku terinjak-injak.Aku ingin menjelaskan bahwa semua ini
 bukan salahku dan juga memberitahunya bahwa kami akan segera mempunyai
 anak.Tetapi melihat sinar matanya,aku tidak pernah menjelaskan masalah
 ini.Aku rela dipukul atau dimaki-maki olehnya walaupun ini bukan
 salahku.Waktu berlalu dengan sangat lambat.Kami hidup serumah tetapi
 seperti tidak mengenal satu sama lain.Dia pulang makin larut malam.Suasana
 tegang didalam rumah.



 Suatu hari,aku berjalan melewati sebuah cafι,melalui keremangan lampu
 dan kisi-kisi jendela, aku melihat suamiku dengan seorang wanita
 didalam.Dia sedang menyibak rambut sang gadis dengan mesra.Aku tertegun dan mengerti apa yg telah terjadi.Aku masuk kedalam dan berdiri di depan
 mereka sambil menatap tajam kearahnya.Aku tidak menangis juga tidak
 berkata apapun karena aku juga tidak tahu harus berkata apa.Sang gadis
 melihatku dan ke arah suamiku dan segera hendak berlalu.Tetapi dicegah
 oleh suamiku dan menatap kembali ke arahku dengan sinar mata yg tidak
 kalah tajam dariku.Suara detak jangtungku terasa sangat keras,setiap detak
 suara seperti suara menuju kematian.Akhirnya aku mengalah dan berlalu dari
 hadapan mereka,jika tidak.. mungkin aku akan jatuh bersama bayiku
 dihadapan mereka.



 Malam itu dia tidak pulang ke rumah.Seakan menjelaskan padaku apa
 yang telah terjadi.Sepeninggal nenek,rajutan cinta kasih kami juga
 sepertinya telah berakhir.Dia tidak kembali lagi ke rumah,kadang sewaktu
 pulang ke rumah,aku mendapati lemari seperti bekas dibongkar.Aku tahu dia
 kembali mengambil barang-barang keperluannya.Aku tidak ingin menelepon dia
 walaupun kadang terbersit suatu keinginan untuk menjelaskan semua
 ini.Tetapi itu tidak terjadi.........,semua berlalu begitu saja.


 Aku mulai hidup seorang diri,pergi check kandungan seorang
 diri.Setiap kali melihat sepasang suami istri sedang check kandungan
 bersama,hati ini serasa hancur.Teman-teman menyarankan agar aku membuang
 saja bayi ini,tetapi aku seperti orang yg sedang histeris mempertahankan
 miliknya.Hitung-hitung sebagai pembuktian kepada nenek bahwa aku tidak
 bersalah.



 Suatu hari pulang kerja,aku melihat dia duduk didepan ruang
 tamu.Ruangan penuh dengan asap rokok dan ada selembar kertas diatas
 meja,tidak perlu tanya aku juga tahu surat apa itu.2 bulan hidup
 sendiri,aku sudah bisa mengontrol emosi.Sambil membuka mantel dan topi aku
 berkata kepadanya:"Tunggu sebentar,aku akan segera menanda tanganinya".Dia
 melihatku dengan pandangan awut-awutan demikian juga aku.Aku berkata pada
 diri sendiri,jangan menangis,jangan menangis.Mata ini terasa sakit sekali
 tetapi aku terus bertahan agar air mata ini tidak keluar.Selesai membuka  mantel,aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia memperhatikan perutku yg
 agak membuncit.Sambil duduk di kursi,aku menanda tangani surat itu dan
 menyodorkan kepadanya."Lu di,kamu hamil?" Semenjak nenek meninggal,itulah
 pertama kali dia berbicara kepadaku.Aku tidak bisa lagi membendung air
 mataku yg menglir keluar dengan derasnya.Aku menjawab:"Iya,tetapi tidak
 apa-apa.Kamu sudah boleh pergi".Dia tidak pergi,dalam keremangan ruangan
 kami saling berpandangan.Perlahan-lahan dia membungkukan badanya ke
 tanganku,air matanya terasa menembus lengan bajuku.Tetapi di lubuk
 hatiku,semua sudah berlalu,banyak hal yg sudah
 pergi dan tidak bisa diambil kembali.



 Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengucapkan kata:"Maafkan
 aku,maafkan aku".Aku pernah berpikir untuk memaafkannya tetapi tidak
 bisa.Tatapan matanya di cafe itu tidak akan pernah aku lupakan.Cinta
 diantara kami telah ada sebuah luka yg menganga.Semua ini adalah sebuah
 akibat kesengajaan darinya.



 Berharap dinding es itu akan mencair,tetapi yang telah berlalu tidak
 akan pernah kembali.Hanya sewaktu memikirkan bayiku,aku bisa bertahan
 untuk terus hidup.Terhadapnya,hatiku dingin bagaikan es,tidak pernah
 menyentuh semua makanan pembelian dia,tidak menerima semua hadiah
 pemberiannya tidak juga berbicara lagi dengannya.Sejak menanda tangani
 surat itu,semua cintaku padanya sudah berlalu,harapanku telah lenyap tidak
 berbekas.



 Kadang dia mencoba masuk ke kamar untuk tidur bersamaku,aku segera
 berlalu ke ruang tamu,dia terpaksa kembali ke kamar nenek.Malam
 hari,terdengar suara orang mengerang dari kamar nenek tetapi aku tidak
 perduli.Itu adalah permainan dia dari dulu.Jika aku tidak perduli
 padanya,dia akan berpura-pura sakit sampai aku menghampirinya dan bertanya
 apa yang sakit.Dia lalu akan memelukku sambil tertawa terbahak-bahak.Dia
 lupa........,itu adalah dulu,saat cintaku masih membara,sekarang apa lagi
 yg aku miliki?




 Begitu seterusnya,setiap malam aku mendengar suara orang mengerang
 sampai anakku lahir.Hampir setiap hari dia selalu membeli barang-barang
 perlengkapan bayi,perlengkapan anak-anak dan buku-buku bacaan untuk
 anak-anak.Setumpuk demi setumpuk sampai kamarnya penuh sesak dengan
 barang-barang.Aku tahu dia mencoba menarik simpatiku tetapi aku tidak
 bergeming.Terpaksa dia mengurung diri dalam kamar,malam hari dari kamarnya
 selalu terdengar suara pencetan keyboard komputer.Mungkin dia lagi
 tergila-gila chatting dan berpacaran di dunia maya pikirku.Bagiku itu
 bukan lagi suatu masalah.


Suatu malam di musim semi,perutku tiba-tiba terasa sangat sakit dan
 aku berteriak dengan suara yg keras.Dia segera berlari masuk ke
 kamar,sepertinya dia tidak pernah tidur.Saat inilah yg ditunggu-tunggu
 olehnya.Aku digendongnya dan berlari mencari taksi ke rumah
 sakit.Sepanjang jalan,dia mengenggam dengan erat tanganku,menghapus
 keringat dingin yg mengalir di dahiku.Sampai di rumah sakit,aku segera
 digendongnya menuju ruang bersalin.Di punggungnya yg kurus kering,aku
terbaring dengan hangat dalam dekapannya.Sepanjang hidupku,siapa lagi yg
mencintaiku sedemikian rupa jika bukan dia?


Sampai dipintu ruang bersalin,dia memandangku dengan tatapan penuh
 kasih sayang saat aku didorong menuju persalinan,sambil menahan sakit aku
 masih sempat tersenyum padanya.Keluar dari ruang bersalin,dia memandang
 aku dan anakku dengan wajah penuh dengan air mata sambil tersenyum
 bahagia.Aku memegang tanganya,dia membalas memandangku dengan
 bahagia,tersenyum dan menangis lalu terjerambab ke lantai.Aku berteriak
 histeris memanggil namanya.


 Setelah sadar,dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matanya...aku
 pernah berpikir tidak akan lagi meneteskan sebutir air matapun
 untuknya,tetapi kenyataannya tidak demikian,aku tidak pernah merasakan
 sesakit saat ini.Kata dokter,kanker hatinya sudah sampai pada stadium
 mematikan,bisa bertahan sampai hari ini sudah merupakan sebuah
 mukjijat.Aku tanya kapankah kanker itu terdeteksi? 5 bulan yg lalu kata
 dokter,bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan terburuk.Aku tidak lagi
perduli dengan nasehat perawat,aku segera pulang ke rumah dan ke kamar
 nenek lalu menyalakan komputer.


 Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa adanya,aku
 masih berpikir dia sedang bersandiwara....Sebuah surat yg sangat panjang
 ada di dalam komputer yg ditujukan kepada anak kami."Anakku,demi dirimu
 aku terus bertahan,sampai aku bisa melihatmu.Itu adalah harapanku.Aku tahu
 dalam hidup ini,kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan
 kekecewaan,sungguh bahagia jika aku bisa melaluinya bersamamu tetapi ayah
 tidak mempunyai kesempatan untuk itu.Didalam komputer ini,ayah mencoba
 memberikan saran dan nasehat terhadap segala kemungkinan hidup yg akan  kamu hadapi.Kamu boleh mempertimbangkan saran ayah.


 "Anakku,selesai menulis surat ini,ayah merasa telah menemanimu hidup
 selama bertahun -tahun.Ayah sungguh bahagia.Cintailah ibumu,dia sungguh
 menderita,dia adalah orang yg paling mencintaimu dan adalah orang yg
 paling ayah cintai".
 Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK,SD,SMP,SMA
 sampai kuliah,semua tertulis dengan lengkap didalamnya.Dia juga menulis  sebuah surat untukku."Kasihku,dapat menikahimu adalah hal yg paling
 bahagia aku rasakan dalam hidup ini.Maafkan salahku,maafkan aku tidak
 pernah memberitahumu tentang penyakitku.Aku tidak mau kesehatan bayi kita
 terganggu oleh karenanya.Kasihku,jika engkau menangis sewaktu membaca
 surat ini,berarti kau telah memaafkan aku.Terima kasih atas cintamu padaku
 selama ini.Hadiah-hadiah ini aku tidak punya kesempatan untuk
 memberikannyapada anak kita.Pada bungkusan hadiah tertulis semua tahun
 pemberian padanya".


 Kembali ke rumah sakit,suamiku masih terbaring lemah.Aku menggendong
 anak kami dan membaringkannya diatas dadanya sambil
 berkata:"Sayang,bukalah matamu sebentar saja,lihatlah anak kita.Aku mau
 dia merasakan kasih sayang dan hangatnya pelukan ayahnya".Dengan susah
 payah dia membuka matanya,tersenyum..............anak itu tetap dalam
 dekapannya,dengan tanganya yg mungil memegangi tangan ayahnya yg kurus dan
 lemah.Tidak tahu aku sudah menjepret berapa kali momen itu dengan kamera
 di tangan sambil berurai air mata....................


 Teman2 terkasih,aku sharing cerita ini kepada kalian,agar kita semua
 bisa menyimak pesan dari cerita ini.Mungkin saat ini air mata kalian
 sedang jatuh mengalir atau mata masih sembab sehabis menangis,ingatlah
 pesan dari cerita ini :"Jika ada sesuatu yg mengganjal di hati diantara
 kalian yg saling mengasihi,sebaiknya utarakanlah jangan simpan didalam
 hati.Siapa tau apa yg akan terjadi besok? Ada sebuah pertanyaan:Jika kita
 tahu besok adalah hari kiamat,apakah kita akan menyesali semua hal yg
 telah kita perbuat? atau apa yg telah kita ucapkan? Sebelum segalanya
 menjadi terlambat,pikirlah matang2 semua yg akan kita lakukan sebelum kita
 menyesalinya seumur hidup. 
 
 
Jangan "Ngambek" berkepanjangan terhadap orang yang kamu kasihi
»»  read more

Cabi Belajar Berenang

Sudah 3 jam 20 menit lebih Cabi duduk termangu di pinggir sungai. Ia sibuk mengamati ketiga temannya — Ciplak Bebek, Ciplik Bebek, dan Cipluk Bebek — yang sedang berenang.

Iri.

Ingin rasanya ia juga ikut menceburkan diri ke sungai yang dingin dan jernih itu, dan ikut berenang dengan gaya kupu-kupu, mengejar bebek-bebek tersebut. Selama ini orang babi tuanya hanya mengajarkan cara untuk berguling-guling di lumpur dengan baik dan benar. Gak pernah sekalipun mereka menyinggung masalah berenang.

“Lagi ngapain Bi?”, sapa Libi si Musang yang tiba-tiba muncul dari balik batu.

“Itu”, jawab Cabi sembari menghela nafas dalam-dalam, “aku ingin bisa berenang seperti bebek-bebek itu.”

“Apalagi itu, si Cipluk”, lanjutnya. Hidungnya diarahkan ke arah Cipluk Bebek. “Ia bahkan bisa berenang hanya dengan menggunakan paruhnya.”

Libi terdiam. Berpikir. Sejenak kemudian matanya berkilau dan senyumnya tersungging.

“Mau aku ajarin berenang? Aku jago loh, waktu SD aja juara berenang tingkat kecamatan.”

Cabi menoleh ke arah Libi. Secercah harapan hadir di benaknya.

“Sungguh? Kamu sungguh-sungguh mau mengajari aku berenang?”, tanya Cabi tak percaya. Ekor pendeknya yang ikal mulai berputar-putar. Tanda ia sedang kegirangan.

“Yo’i”, jawab Libi dengan gaya sok gaul. “Tapi gak gratis, bos. Sekali belajar biayanya 2 juta rupiah. Itu belum termasuk ongkos transportasi, akomodasi, dan PPN.”

Cabi mencoba mengingat-ingat deretan angka di buku tabungannya. Sejak kecil, tiap hari ibunya selalu memberikan uang jajan. Dan sebagian dari uang tersebut selalu ia sisihkan dan ia tabung untuk biaya kuliah nanti. Cita-citanya adalah berkuliah dan menjadi lulusan UNBIT (UNiversitas BabI Teladan) agar ayah dan ibunya bangga.

“Baiklah, aku setuju!” jawab Cabi. Keinginan muliannya dalam sekejab tergerus oleh nafsu dan hasratnya untuk bisa berenang. Seperti ketiga temannya.

Beberapa saat kemudian mereka berdua pun kembali ke rumah masing-masing setelah berjanji untuk berkumpul kembali di tempat yang sama tiga hari lagi.

Bu Gembul gelisah. Ia kepikiran dengan kata-kata anaknya, Cabi, tadi pagi yang mengatakan kalau siang ini ia mulai kursus berenang bersama Libi Musang. Bagaimana tidak khawatir apabila reputasi Libi yang super licik itu sudah menjadi rahasia umum bagi seluruh penghuni hutan.

Tidak tahan lagi, akhirnya Bu Gembul memutuskan untuk pergi ke sungai, ke tempat yang diberitahukan oleh Cabi tadi pagi. Sesampainya di sana ia terlonjak kaget dan hampir terguling jatuh ke sungai, seandainya saja ia tidak berpegangan ke dahan pohon rambutan yang ada tepat di sampingnya.

Ya, pemandangan yang ia lihat adalah si Cabi, anaknya, sedang asyik bermain-main di tengah sungai dengan menggunakan ban pelampung yang diikatkan ke pohon beringin di tepi sungai. Libi sendiri sedang berleha-leha di bawah pohon tersebut sambil mendengarkan iPod.

“Apa-apaan ini?!”, teriak Bu Gembul.

Libi terlonjak. Kerasnya volume iPod-nya ternyata masih kalah dengan volume suara Bu Gembul yang sedang emosi.

Buru-buru ia mematikan iPod, melepas earphone, dan memasukkan keduanya ke dalam saku celananya. Ia mendatangi Bu Gembul sambil berusaha tersenyum manis.

“Ya, ada apa Bu Gembul?”

“Kata Cabi, kamu mau mengajari anakku berenang. Mana buktinya? Kalau hanya menggunakan pelampung seperti itu, Soni Semut juga bisa.”, omel Bu Gembul.

Libi melirik sepintas ke arah Cabi yang masih asik bermain air. Namun belum sempat ia membuka mulutnya untuk memberikan penjelasan, bu Gembul sudah melanjutkan omelannya ke jilid dua.

“Aku tidak mau tahu. Pokoknya sekarang, kamu harus ikut nyemplung juga ke sungai, dan ajari Cabi berenang yang benar.”

Libi mendesah pelan. “Mati aku”, gumamnya, “aku kan gak bisa berenang.”

“Tapi bu…”

Libi membatalkan niatnya untuk membantah saat melihat Bu Gembul memungut sebatang dahan pohon dengan ukuran XL di tanah. Ia merinding membayangkan kepalanya digetok dengan menggunakan dahan tersebut.

Dengan langkah gontai ia berjalan menuju sungai dan masuk ke dalam air. Susah payah, ia akhirnya bisa mencapai tengah sungai, tempat dimana Cabi sedang mempraktikkan ilmu si Cipluk, berenang dengan menggunakan moncong.

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari arah selatan sungai. Keras. Memekakkan telinga.

Ketiganya terkaget-kaget. Namun kekagetan tersebut langsung berubah menjadi kepanikan saat Eli Elang melesat di langit dengan cepat sambil berteriak, “AWASSSS!!!! BENDUNGAN AMBRUKKK!!!! CEPAT MENYINGKIR DARI SUNGAIIIII!!!!”

Tanpa buang waktu, Bu Gembul langsung meraih tali pelampung Cabi dan sekuat tenaga menariknya ke pinggir sungai.

“Ayo Cabi, dorong tubuhmu ke sini”, teriaknya, memberi semangat agar Cabi cepat tiba di pinggir sungai.

Libi panik. Untuk bertahan mengapung di air saja ia sudah kewalahan, apalagi kalau sekarang harus buru-buru berenang ke pinggir. Tangannya menggapai-gapai, mencoba keberuntungan, siapa tahu bisa meraih ban pelampung Cabi.

Tapi usahanya sia-sia.

Gemuruh terdengar semakin dekat dan arus air mulai bergerak semakin deras.

Bu Gembul yang sudah berhasil menyelamatkan Cabi segera melemparkan ban pelampung tersebut ke arah Libi.

“Pegang pelampung itu Libi! Aku akan menarikmu!”

Sayang, lemparan ban tersebut agak kurang tepat sasaran. Ban jatuh dua meter dari posisi Libi berada. Dengan kepanikan yang makin melanda, Libi berusaha keras untuk meraih ban tersebut.

1 meter lagi.

80 cm lagi.

50 cm lagi.

20 cm lagi.

5 cm lagi.

BYARRRRR!!!! Gelombang air deras muncul dengan tiba-tiba, menyeret tubuh Libi yang sudah hampir menggapai ban.

“Tolongggg!!!!”, teriaknya.

Bu Gembul dan Cabi terpaku. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Keduanya hanya bisa terdiam melihat tubuh kurus Libi yang terombang-ambing arus sungai, melaju ke arah air terjun yang ada sekitar 1km di depan.


"Jika ingin menuntut ilmu, tuntutlah dari orang yang memang terbukti pintar dan menguasai ilmu tersebut"
»»  read more

"Bacanya yang keras ya Pa ..."

Semuanya itu disadari John pada saat dia termenung seorang diri, menatap kosong keluar jendela rumahnya. Dengan susah payah ia mencoba untuk memikirkan mengenai pekerjaannya yang menumpuk. Semuanya sia-sia belaka.

Yang ada dalam pikirannya hanyalah perkataan anaknya Magy di suatu sore sekitar 3 minggu yang lalu. Malam itu, 3 minggu yang lalu John membawa pekerjaannya pulang. Ada rapat umum yang sangat penting besok pagi dengan para pemegang saham.

Pada saat John memeriksa pekerjaannya, Magy putrinya yang baru berusia 4 tahun datang menghampiri, sambil membawa buku ceritanya yang masih baru. Buku baru bersampul hijau dengan gambar peri. Dia berkata dengan suara manjanya, "Papa lihat!" John menengok kearahnya dan berkata, "Wah, buku baru ya?" "Ya Papa!" katanya berseri-seri, "Bacain dong!" "Wah, Ayah sedang sibuk sekali, jangan sekarang deh", kata John dengan cepat sambil mengalihkan perhatiannya pada tumpukan kertas di depan hidungnya.

Magy hanya berdiri terpaku disamping John sambil memperhatikan. Lalu dengan suaranya yang lembut dan sedikit dibuat-buat mulai merayu kembali "Tapi mama bilang Papa akan membacakannya untuk Magy". Dengan perasaan agak kesal John menjawab: "Magy dengar, Papa sangat sibuk. Minta saja Mama untuk membacakannya". "Tapi Mama lebih sibuk daripada Papa" katanya sendu. "Lihat Papa, gambarnya bagus dan lucu." "Lain kali Magy, sana! Papa sedang banyak kerjaan."

John berusaha untuk tidak memperhatikan Magy lagi. Waktu berlalu, Magy masih berdiri kaku disebelah Ayahnya sambil memegang erat bukunya. Lama sekali John mengacuhkan anaknya. Tiba-tiba Magy mulai lagi "Tapi Papa, gambarnya bagus sekali dan ceritanya pasti bagus! Papa pasti akan suka". "Magy, sekali lagi Ayah bilang: Lain kali!" dengan agak keras John membentak anaknya.

Hampir menangis Magy mulai menjauh, "Iya deh, lain kali ya Papa, lain kali". Tapi Magy kemudian mendekati Ayahnya sambil menyentuh lembut tangannya, menaruh bukunya dipangkuan sang Ayah sambil berkata "Kapan saja Papa ada waktu ya, Papa tidak usah baca untuk Magy, baca saja untuk Papa. Tapi kalau Papa bisa, bacanya yang keras ya, supaya Magy juga bisa ikut dengar".

John hanya diam. Kejadian 3 minggu yang lalu itulah sekarang yang ada dalam pikiran John. John teringat akan Magy yang dengan penuh pengertian mengalah. Magy yang baru berusia 4 tahun meletakkan tangannya yang mungil diatas tangannya yang kasar mengatakan: "Tapi kalau bisa bacanya yang keras ya Pa, supaya Magy bisa ikut dengar". Dan karena itulah John mulai membuka buku cerita yang diambilnya, dari tumpukan mainan Magy di pojok ruangan.

Bukunya sudah tidak terlalu baru, sampulnya sudah mulai usang dan koyak. John mulai membuka halaman pertama dan dengan suara parau mulai membacanya. John sudah melupakan pekerjaannya yang dulunya amat sangat penting. Ia bahkan lupa akan kemarahan dan kebenciannya terhadap pemuda mabuk yang dengan kencangnya menghantam tubuh putrinya di jalan depan rumah. John terus membaca halaman demi halaman sekeras mungkin, cukup keras bagi Magy untuk dapat mendengar dari tempat peristirahatannya yang terakhir. Mungkin...

JANGAN JADIKAN DIRI ANDA SEPERTI JOHN, SAAT SEMUANYA TERJADI,PENYESALAN SUDAH SANGAT TERLAMBAT...... LAKUKAN SESUATU SEBELUM ANDA TERLAMBAT UNTUK MENYADARINYA, BERIKANLAH KEBAHAGIAAN BAGI MEREKA YANG ANDA CINTAI. APAKAH ANDA BENAR-BENAR MENCINTAI MEREKA?
»»  read more

Selasa, 02 Agustus 2011

Maafkan Aku, IBU!!!

Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya.  Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun.  
Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tdk membawa uang.  
Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan.  Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tdk mempunyai uang.  
Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?” 
” Ya, tetapi, aku tdk membawa uang” jawab Ana dengan malu-malu 
“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.  
 Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi.  Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang. 
“Ada apa nona?” Tanya si pemilik kedai. 
“tidak apa-apa” aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.  “Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi !, tetapi,…  ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah”  “Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri” katanya kepada pemilik kedai. 
Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata  “Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi utukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya”  Ana, terhenyak mendengar hal tsb. 
“Mengapa aku tdk berpikir ttg hal tsb? Utk semangkuk bakmi dr org yg baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya. 
Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia mnguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya.  Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg hrs diucapkan kpd ibunya.  Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. 
Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tdk memakannya sekarang”  Pada saat itu Ana tdk dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya. 
Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kpd org lain disekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. 
Tetapi kpd org yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.

»»  read more